Thursday, 31 January 2013

Sedikit Tentang Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA)

Sedikit Tentang Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA)


Informasi di bawah ini berasal dari situs beasiswalipia.co.cc; ahmadzainuddin.com;ustsarwat.com dan sumber lainnya. Saya mencoba merangkumnya menjadi FAQ supaya lebih mudah dibaca. Jadi kalau rekan-rekan bertanya lebih mendetail mengenai LIPIA di luar yang disajikan di sini, mohon maaf, saya nggak bisa jawab. Mohon koreksi jika terdapat informasi yang keliru/terbaru mengenai LIPIA. Selamat "menikmati"...

Apa itu LIPIA?
LIPIA itu bukan nama makanan saudara-saudara. LIPIA merupakan salah satu perguruan tinggi bertaraf international yang terletak di Ragunan, Jakarta Selatan. LIPIA merupakan kependekan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab. Nama resminya yaitu Jami`atul Imam Muhammad Ibnu Suud Al-Islamiyah, atau Al-Imam Muhammad Ibnu Suud Islamic University. Sebagai informasi, LIPIA merupakan universitas milik kerajaan Arab Saudi. Jadi pusatnya juga di sana di ibu kota Arab Saudi, Riyadh.

          Berikut profil Kampus LIPIA
Kampus ini adalah salah satu cabang dari Universitas Imam Muhammad Ibnu Su'ud di Riyadh, hasil kerjasama antara Kerajaan Saudi Arabia dengan Indonesia, pada awalnya memang masyarakat Indonesia tidak banyak mengenal lembaga ini

Namun lama kelamaan tumbuh juga antusias masyarakat untuk menimba ilmu di LIPIA, ditandai semakin meningkatnya jumlah mahasiswa, bahkan pihak kampus telah membuka ruang bagi para mahasiswi untuk belajar di kampus ini. Dan pada tahun 2010 M/ 1431 H LIPIA merencanakan akan menambah jumlah mahasiwa/i sampai dengan 2000 orang.

Fakta membuktikan pada tahun 2009 M/1431 H LIPIA telah memiliki kurang lebih 1700 mahasiswa/i, mengingat banyaknya permintaan dari masyarakat untuk terus menambah jumlah mahasiswa dan mahasiswinya.

Kemudian sejak semester lalu telah dibuka ta’lim system baru yaitu Ta’lim Muwaziy yang didanai oleh donatur swasta dari Arab Saudi, sehingga menargetkan mahasiswa yang lebih banyak lagi karena LIPIA akan membuka cabang di beberapa kota besar di Indonesia, seperti Semarang dan Makassar berikut kota lainnya menyusul.

Sedangkan syarat sebuah lembaga asing mempunyai Gedung sendiri dari pemerintah Indonesia adalah LIPIA harus mempunyai minimal 2000 mahasiswa, maka LIPIA akan membuka cabang di berbagai kota dan menerima sebanyak mungkin mahasiswa dan mahasiswi, sehingga syarat tersebut terpenuhi dan akan membangun gedung baru di kawasan Kampung Rambutan dengan status milik sendiri.

Jadi untuk semester ini dan yg akan datang calon mahasiswa/i seharusnya masih mempunyai kesempatan yang luas dan lebar dengan bukti semester lalu banyak sekali calon mahasiswa dari jenjang Takmily dan Syari’ah banyak yang diterima, bahkan biasanya hanya satu kelas yang diterima dalam satu jenjang ternyata menjadi dua kelas, dulunya 40 org yg diterima semester kemaren menjadi 80 org yang dinyatakan diterima menjadi mahasiswa LIPIA.

Fasilitas apa yang diberikan LIPIA kepada mahasiswa/i nya ?
Fasilitas yang dimiliki LIPIA antara lain:
  •  Ruang kelas berAC
  •  Lab.komputer
  •  Lab.Bahasa
  •  Masjid
  •  Kantin
  •  Asrama
  •  Klinik kesehatan
  •  Perpustakaan [terbesar untuk se-asia tenggara untuk manuskrip yang berbahasa arab ]
  •  Lapangan futsal, takraw, bulu tangkis. volly dan lain-lain
  •  Diktat kuliah (muqorror) yang dibagikan secara gratis
  •  Uang saku bulanan 200 riyal/bln bagi mereka yang sudah masuk jenjang Syari'ah/Takmili, dan 100 riyal/bln bagi mahasiwa/i yang masih di jenjang Persiapan Bahasa (I’dad Lughawy)
  • Uang bantuan bagi mahasiswa/i yang sangat membutuhkannya.
Apa Kelebihan Kuliah di LIPIA?
Jawabannya sangat relatif. Namun ada beberapa kelebihan yang dimiliki LIPIA diantaranya :
  • Kampus bertaraf internasional
    Kuliah di LIPIA sebenarnya hampir sama dengan kuliah di luar negeri. Kenapa? karena kurikulum, dosen pengajar, literatur, bahkan jadwal perkuliahaan dan liburan, sudah diatur langsung dari Saudi. Para Pengajarnya pun berasal dari universitas terkemuka seperti Universitas Kairo, Mesir. Dosen LIPIA berasal dari Saudi Arabi, Mesir, Sudan, Suriah, Somalia, Iraq, Jordan dan negara semenanjung Arab lain yang notabene tidak bisa bahasa Indonesia. Jadi, proses pembelajaran di LIPIA disampaikan dengan bahasa pengantar yaitu bahasa Arab fushah. Ada juga dosen yang berasal dari Indonesia. Tapi tetap saja bahasa yang digunakan bahasa Arab fushah.
  • Kampus yang membebaskan biaya pendidikan (gratis)
  • LIPIA memberikan uang saku kepada setiap mahasiswanya (mukafa`ah bulanan) (http://www.lipia.org)

Apa saja program studi yang ada di LIPIA?
Berbeda dengan kampus lain, di LIPIA hanya ada satu fakultas yaitu fakultas Syari'ah*. Namun ada berapa marhalah yang ada, yaitu :
 a. Program Persiapan Bahasa [I'dad Lughawy] masa kuliah 2 tahun
 b. Program Pra Kuliah [Takmili] 1 tahun
 *Note : Fakultas Syari'ah (S1) 4 tahun bergelar Lc

Apa saja syarat pendaftaran di LIPIA ?
  • 1. Calon Mahasiswa sudah tamat aliyah atau yang sederajat untuk bagian :
    • I’dad Lughowi : nilai rata-rata minimal 7 dan ijazah belum lewat 3 tahun
    • Takmili : nilai rata-rata minimal 8 dan ijazah belum lewat 4 tahun.
    • Syari'ah: nilai rata-rata minimal 8 dan ijazah belum lewat 5 tahun.

    2. Sehat jasmani & rohani
    3. Berkelakuan baik
    4. Mampu berbahasa arab dengan baik ( baca, tulis dan bicara )
    5. Hafal Al-Qur’an (Minimal 2 juz untuk Takmily, 3 juz untuk Syari'ah).
    6. Mengkhususkan diri sepenuhnya untuk belajar di LIPIA
    7. Belum pernah diberhentikan dari LIPIA
    8. Lulus tes tulis & tes lisan

    • Berkas yang diperlukan
    1. Foto Copy Ijazah yang sudah dilegalisir
    2. Transkrip nilai & raport terakhir
    3. Surat Keterangan Berkelakuan Baik dari Kepolisian yang masih berlaku / SKCK (asli)
    4. Surat Keterangan Sehat dari Dokter yang masih berlaku (asli)
    5. Foto copy KTP yang masih berlaku
    6. Pas Foto terbaru : (4×6) 2 lembar, (3×4) 2 lembar, (2×3) 2 lembar
    7. Rekomendasi dari Sekolah atau tokoh masyarakat ( Diutamakan sekali ). 
Kalau mau mendaftar gimana caranya?
Untuk bisa masuk ke jenjang kuliah S-1, seorang calon mahasiswa disyaratkan telah lulus program persiapan bahasa (i`dad lughawi) dan persiapan Universitas (takmili).

Program persiapan bahasa (i`dad lughawi) dan persiapan Universitas (takmili) itu gimana sih?
Berikut ini cerita dari seorang alumni LIPIA  tentang i'dad lughawi (bersumber dari salah satu situs ini beasiswalipia.co.cc ; ustsarwat.com ahmadzainuddin.com. Tapi saya lupa yang mana). Silakan disimak...

I'dad Lughawi
Program persiapan bahasa dilalui selama 4 semester. Seminggu 5 hari kerja, dari hari Senin s.d. Jumat, mulai sejak jam 07.00 sampai dengan pukul 12.00.Yang menarik, untuk bisa diterima di bangku kuliah persiapan bahasa, seorang calon mahasiswa harus bersaing dengan calon lainnya. Sebagai contoh dari 80 kursi (dua kelas) yang tersedia, jumlah yang memperebutkannya bisa menyentuh angka 1.500-an orang. Itu pun harus antri sejak shubuh untuk sekedar bisa mendapat nomor pendaftaran.

Jadi sebelum mengikuti kelas persiapan bahasa, ada tes dulu ya?
Yup, ada dua tes yang harus dilalui yaitu test tertulis dan test lisan. Soal tes tertulis mirip tes listening TOEFL, cuma di sini menggunakan bahasa Arab. Soal tes berasal dari kaset/cd. Jadi, peserta tinggal membubuhkan jawabannya di lembar yang disediakan. Calon mahasiswa yang lulus tes tertulis berhak mengikuti tes selanjutnya. Dengan kata lain, diberlakukan sistem gugur di setiap tahapan tesnya.

Berikut ini cerita mengenai tes lisan dari seorang alumni LIPIA (bersumber dari salah satu situs ini beasiswalipia.co.cc ; ustsarwat.com ahmadzainuddin.com. tapi maaf saya lupa yang mana).
Test lisan lebih gawat lagi. Satu orang calon mahasiwa `dikeroyok` oleh dua sampai tiga orang Arab yang berjenggot, dites berbicara dalam bahasa Arab. Buat jenjang fakultas Syariah, malah ada tambahan tes hafalan Quran 2 juz yang diacak ayat-ayatnya. Lalu diminta membaca sebuah buku berbahasa Arab yang gundul alias tidak berharakat, setelah itu ditanya ini itu tentang apa yang kita baca barusan. Tentu saja ditanya pakai bahasa Arab dan menjawabnya pun pakai bahasa Arab pula.

Selesai tema isi buku, dosen-dosen Arab itu melanjutkan dengan `interogasi` tentang wawasan kita terhadap ilmu-ilmu agama, lagi-lagi pakai bahasa Arab. Maka pada test ini, banyak calon mahasiswa yang bermandi keringat, "Wah, kayak menghadapi malaikat Munkar dan Nakir", kata salah seorang teman sambil bercanda di waktu itu saking takutnya.

Sebenarnya pada dosen berkebangsaan Arab itu tidak galak atau killer, mereka sangat ramah dan tahu bahwa pengetahuan bahasa Arab kami pas-pasan. Mereka sering membantu untuk menjawab pertanyaan yang mereka buat sendiri. Tapi namanya mental sudah anjlog, banyak yang menyerah.

Tapi teman-teman yang lain banyak yang sudah punya persiapan, semacam bimbingan tes. Jadi semua soal yang biasanya digunakan sudah dilatih duluan, termasuk latihan test lisan itu. Jadi tidak sedikit yang ketika ditanya ini dan itu, mereka menjawab dengan santai, bahkan ada yang sambil bercanda dan tertawa-tawa. Wah, yang begini kayaknya pasti lulus. Sebab secara praktis, mereka sudah bisa ngobrol dengan orang Arab, pakai bercanda segala pula.

Lalu tibalah hari pengumuman, semua calon mahasiswa datang ke LIPIA dengan berdebar-debar. Kebanyakan mereka datang dari daerah, yang anak Jakarta paling dua atau tiga orang saja. Jadi pemandangannya menarik sekali. Banyak di antara mereka yang sudah sekalian membawa koper atau tas, seandainya tidak diterima, ya langsung pulang kampung.

"Suasananya persis suasana yaumul hisab", komentar seorang teman. Setiap orang deg-degan menunggu-nunggu apakah lolos keterima atau tidak. Lalu dari Syu`un Tullab keluar pak Zaini membawa lembar pengumuman dan di tempat lagi di dinding gedung. Lalu terlihat pemandangan yang beraneka rupa, ada yang meloncat-loncat kegirangan, ada yang duduk lesu, ada langsung angkat tas menuju terminal, ada juga bengong saja.
Apa saja materi yang diujikan di LIPIA?
  • Materi Ujian I’dad Lughowy meliputi : Mufrodat (Kosa Kata) Fahmul Maqru’ Ashwat, Nahwu & Shorof. 2 Semester kemaren tidak ada Ujian Syafahi / Lisan, jadi hanya ada ujian tulis saja. Dan di semester terakhir kemaren rata-rata semua mahasiswa yg ikut tes diterima, kecuali yang nilainya lemah atau parah sekali.
  • Materi Ujian Takmily meliputi : Maharoh Lughoh mulai Nahwu Shorof dan Balaghoh, sangat diutamakan yang berasal dari I'dad LIPIA sendiri, karena soalnya banyak dari materi Balaghoh I'dad
  • Materi Ujian Syariah meliputi : Aqidah, Tafsir, Fiqih, Usul Fiqih, Tsaqofah, Hadits, Ilmu Hadits dll.
  • Materi Test
Program Persiapan Universitas (Takmili)
Lulus kuliah di persiapan bahasa (i`dad lughawi) adalah syarat untuk mendaftar ke program persiapan Universtias (takmili). Dan lulus dari program takmili adalah syarat untuk bisa mendaftar di program S-1 Fakultas Syariah.Tidak ada jaminan lulusan i`dad lughawi dapat langsung diterima di takmili karena mereka akan diseleksi ulang, dites lagi secara tertulis dan secara lisan.

Perbedaan materi tes sudah diuraikan diatas secara singkat.  Fokus program takmili terletak pada kekuatan sastra bahasa Arab dan sebagian dasar dari ilmu-ilmu keIslaman. Salah satu syaratnya harus hafal dua juz Al-Quran, mahir berbahasa Arab, menguasai dasar-dasar ilmu-ilmu syariah.
Di program Takmili kita akan berkenalan dengan sekian banyak sastra arab, termasuk syi`ir jahili seperti Imru`ul Qais, hingga sastra Arab modern seperti Al-Manfaluthi dan jajarannya.

Yang bikin susah, semua harus dihapal luar kepala dan diurai satu persatu. Dosen meminta kita maju ke depan untuk membacakan syair-syair itu yang jumlahnya bisa sampai 50 bait. Dosen meminta mahasiswa menjelaskan kata perkata, bait per bait dan kekuatan bahasa dari masing-masing ungkapan yang digunakan oleh penyair.

Awalnya kami bingung, mau belajar agama kok malah disuruh menghafal syair, mending menghafal nasyid atau sekalian Al-Quran. Ternyata kita dilatih untuk menguasai bahasa Arab bukan hanya percakapan tapi juga kekuatan bahasa dan sastra. Konsiderannya, dua sumber agama Islam itu (Quran dan Hadits) merupakan sastra yang indah dan level tinggi. Percuma bicara Islam atau sok jadi tokoh Islam tapi tidak mengerti kekuatan bahasa keduanya. Percuma kalau hanya sekedar baca terjemahan.
Program takmili harus diselesaikan dalam waktu satu tahun.

Masuk Fakultas Syariah


Setelah menempuh pendidikan kurang lebih 3 tahun (2 tahun i'dad + 1 tahun takmili), program selanjutnya adalah masuk fakultas Syariah. Syarat masuk program diantaranya hafal 3 juz Quran dan memiliki kemampuan pemahanan ilmu syariah yang lebih dalam. Tentu saja terdapat tes yang harus dilalui calon mahasiswa. Seperti biasa terdiri dari tes tertulis dan tes lisan.

Di Fakultas Syariah, nyaris semua cabang ilmu keIslaman diajarkan. Ada mata kuliah Fiqih yang berjumlah 40 SKS, sehingga setiap hari ada mata kuliah itu, sejak dari semester 1 sampai semester 8. Kitab yang dipakai adalah kitab fenomenal Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtasid karya Ibnu Rusyd Al-Hafid.

Ada mata kuliah Ushul Fiqih yang berjumlah 32 SKS sehingga dalam seminggu ada 4 hari mata kuliah itu diajarkan. Kitabnya cukup bikin mumet, yaitu Raudhatun Nadhir.

Ada juga mata kuliah Tafsir yang berjumlah20 SKS dan tiga hari seminggu diajarkan. Kitabnya adalah Fathul Qadir karya Asy-Syaukani.

Ada Hadits Ahkam jumlah SKS-nya sama Tafsir (20 SKS). Kitabnya adalah Subulus Salam karya Ash-Shan`ani. Kitab ini adalah syarah (penjelasan) dari kitab Bulughul Maram.

Masih juga ada mata kuliah Nahwu yang berjumlah 24 SKS. Kitabnya Audhahul Masalik yang merupakan syarah dari matan Alfiyah Ibnu Malik. Juga ada mata kuliah Al-Quran yang intinya tahsinut tilawah dan tahfidz. SKS-nya 12, targetnya sampai lulus S-1, kita menghafal 8 juz Al-Quran.

Selain itu juga ada mata kuliah Qawaid Fiqhiyyah 4 SKS, Faraidh8 SKS, Teks Sastra 4 SKS, Balaghah 2 SKS, Ushul Tarbiyah 2 SKS, Tarbiyah Islamiyah 2 SKS, Metodologi Mengajar 4, Ilmu Jiwa-Jiwa SKS, Riset 4 dan Kultur Islam 4 SKS.

Jadi totalnya 200 SKS. Lebih banyak dari umumya kuliah S-1 di negeri kita yang umumnya hanya sekitar 150-an SKS.
Berikut ini info mengenai kuliah di LIPIA dikutip dari situs ahmadzainuddin.com. Izin share ya admin
Kuliah di LIPIA memang kuliah yang intensif. Jam kuliah begitu padat, persis ketika kita sekolah di SMA dulu. Jadi kalau niatnya cuma iseng-iseng, sebaiknya tidak usah masuk LIPIA. Apalagi kalau mau sambil kerja atau kuliah di tempat lain, tidak akan terkejar. Apalagi buat para `ustadz` yang sudah terlanjur sibuk ceramah kesana-kemari, kalau memang niat mau masuk LIPIA, harus cuti jadi ustadz dulu barang 7 tahun. Ceramah bisa dijadikan kegiatan sambilan, tapi kuliah harus nomor satu.

Masuk jam 07.00 pagi dan pulang jam 12.00. Sehari 5 sessi, tiap sessi 50 menit. Jadi antara sesi satu dengan sessi lain, diberi jeda hanya 5 menit saja, sekedar memberi kesempatan para dosen berganti kelas.

Di kelas persiapan bahasa, materi kuliahnya memang terkonsentrasi pada penguasaan 4 sisi kemahiran berbahasa, yaitu membaca, menulis, berbicara dan mendengar. Salah satu kelebihan program ini, yang mengajar memang orang Arab semua, sehingga taste (dzauq) bahasa Arab benar-benar terasa.

Banyak teman yang tadinya sudah merasa bisa bahasa Arab, ternyata salah dalam ta`bir dan harus diperbaiki. Karena sewaktu di pesantren dulu, guru mereka yang bukan orang Arab itu mengajarkannya keliru. Yah, namanya saja bukan orang Arab, tetap saja taste nya beda.

Satu yang menarik ketika kuliah di LIPIA, setiap mahasiswa diberi uang saku setiap bulan. Kalau mahasiswa program persiapan bahasa, uang sakunya hanya 100 real (kurs 1 real = Rp 2.500- Rp3.000). Tapi kalau program Persiapan Universitas dan Program S-1, uang sakunya lumayan, karena jumlahnya 2 kali lipat, yaitu 200 real.


Ruang kelas ber-AC, perpustakaan luas, tiap hari masuk `bioskop` alias laboratorium bahasa. Bahkan yang asalnya dari daerah, disediakan asrama gratis, walau pun terbatas.

Tapi disiplin yang ditegakkan juga ketat. Tiap ganti jam pelajaran, dosen akan mengabsen ulang. Wah, kayak anak SD. Tapi kalau dipikir-pikir, memang harus begitu menghadapi kebiasan bangsa kita yang terkenal tidak disiplin. Jumlah absen nanti akan mempengaruhi nilai mukafaah (uang saku) dan juga kalau melebihi 25% toleransi, bisa dihukum tidak bisa ikut ujian akhir. Akhirnya bisa tinggal kelas, atau malah DO sekalian. >> Kalau yang ini mirip-mirip dengan aturan di sekolah kedinasan. Absensi tiap masuk kelas bahkan bisa di-DO kalau bolos beberapa kali 30% absensi.
Banyak dari lulusan LIPIA yang meneruskan kuliah di luar negeri. Beberapa bahkan belum sempat lulus dari LIPIA, namun pindah karena diterima study di universitas LN.

Jl. Buncit Raya No. 5A Ragunan, Jaksel, Indonesia
P.O. Box. 3345 Jakarta 10002
021-7814485-6
021-78260082

Sumber :
beasiswalipia.co.cc
ahmadzainuddin.com
ustsarwat.com

0 comments:

Post a Comment

 
Designed Lasanta- Samanta | www.bloggertipandtrick.net BLOGGER - Blogger Cumi |Single Man Who Need Sholehah Wife